PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
(COOPERATIVE LEARNING)
Peserta didik bukanlah objek pendidikan karena manusia adalah subjek dan modalitas. Dalam proses pembelajaran peserta didik berusaha secara ktif untuk mengembangkan dirinya di bawah bimbingan pengajar. Oleh karena itu, dalam kegiatan peserta didik harus diperlakukan dan memperlakukan dirinya bukan sebagai objek, tetapi sebagai suatu subyek aktif. Dalam proses pembelajaran peserta didik adalah manusia yang menjalani perubahan untuk menjadikan dirinya sebagai individu dan personal yang mempunyai kepribadian dengan kemampuan tertentu. Dengan kata lain, aktualisasi diri (self actualization).
Dalam melaksanakan suatu proses belajar mengajar, sebaiknya setiap guru melakukannya dengan menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran. Kegiatan mengajar yang dilakukan guru dengan pendekatan tertentu akan bermakna, apabila materi yang disajikan kepada siswa dapat dimengerti oleh sebagian besar siswa atau seluruh siswa. Harus dipahami, bahwa kadang-kadang guru dalam mengajar, melakukan pendekatan dengan cara lain sedangkan siswa juga melakukannya dengan pendekatan yang tidak diberikan oleh gurunya.
Pendekatan pembelajaran yang digunakan sebaiknya dipahami setiap guru dengan benar, sehingga pada saat mengajar guru mengetahui pendekatan mana yang cocok dengan materi yang hendak diajarkan. Jika hal ini disadari oleh semua guru, maka pendekatan mengajar itu menjadi sangat penting untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
Berbagai pendekatan pembelajaran yang ada seperti pendekatan kontekstual, pendekatan kuantum, pendekatan kooperatif dan pendekatan terpadu. Setiap pendekatan memiliki sifat-sifat yang khas, pada setiap langkahnya. Namun demikaian, kita perlu memiliki satu pola yang saling melengkapi. Salah satu di antaranya adalah pendekatan kooperatif. Dimana pendekatan ini mengajarkan kerja sama (gotong royong) antar siswa. Pada tulisan ini akan dikemukakan mengenai pendekatan koopertif, dimana pendekatan pembelajaran kooperatif ini dapat memotivasi siswa dalam kegiatan belajarnya.
Hakikat Pendekatan Kooperatif
Dalam sisi pembelajaran, guru sering berhadapan dengan pelajar yang berbeda dari segi kebolehan mereka. Hal ini memerlukan kepakaran guru dalam menentukan strategi pengajaran dan pembelajaran. Ini bermakna, guru boleh menentukan pendekatan, memilih kaedah dan menetapkan teknik-teknik tertentu yang sesuai dengan perkembangan dan kebolehan pelajar. Strategi yang dipilih itu, selain berpotensi memerangsangkan pelajar belajar secara aktif, ia juga harus mampu membantu menganalisis konsep atau ide dan berupaya menarik hati pelajar serta dapat menghasilkan pembelajaran yang bermakna.
Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara tepat dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang akan guru ambil dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, pendidik harus benar-benar memperhatikan dengan baik apa yang dibutuhkan oleh siswa, bagaimana keadaan lingkungan belajar siswa dan keperluan siswa akan pembelajaran dalam bentuk seperti apa yang dapat mempermudah siswa dalam menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru. Hal ini sudah sejalan dengan otonomi proses pendidikan yang sudah diberikan oleh pemerintah, dengan tidak mengintervensi kurikulum yang digunakan di sekolah. Jadi, seorang guru dapat menggunakan sebuah pendekatan sesuai dengan kebutuhan dan sarana dan prasarana yang ada di sekolah.
Pendekatan pembelajaran menjadi sebuah cara yang layak untuk benar-benar dipikirkan dengan matang oleh guru selaku motor penggerak utama dalam proses pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan hasil yang baik tidak bisa dilakukan dengan semena-mena, seorang guru harus mengerti dengan baik bagaimana ia mesti berdiri di depan kelas sebagai tokoh utama yang menyalurkan sebuah pengetahuan kepada anak didik, tentunya dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan sekolah, siswa dan lingkungan belajar.
Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum, guru perlu melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran mulai dari perencanaan, menentukan strategi, pemilihan materi dan metode pembelajaran, sampai pada penilaian. Serangkaian kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tersebut sering disebut dengan pendekatan pembelajaran.
Pendekatan, metode, dan teknik merupakan tiga istilah yang sering dicampuradukkan pengertian atau pemakaiannya. Tidak sedikit orang yang menyamakan pengertian ketiganya. Hal itu wajar karena ketiga istilah itu mempuanyai kaitan yang erat dan slaing bertautan. Ketiga istilah itu mempunyai hubungan berjenjang atau hierarkis, yang satu lebih tinggi dari yang lainnya.
Iskandarwassid dan Sunendar (2009: 40), menyatakan pendekatan berada pada tingkat yang tertinggi, yang kemudian diturunkan atau dijabarkan dalam bentuk metode. Selanjutnya metode dituangkan atau diwujudkan dalam sebuah teknik. Teknik inilah yang merupakan ujung tombak pengajaran karena berada pada tahap operasioanal atau tahap pelaksanaan pengajaran.
Pendekatan adalah proses, perbuatan, atau cara mendetekati (KBBI, 2009). Dikatakan pula bahwa pendekatan merupakan sikap atau pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi atau seperangkat asumsi yang paling berkaitan.
Dari Berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau merupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran.
1. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Kooperatif
Manusia memerlukan kerjasama karena manusia merupakan makhluk individual yang memiliki potensi, latar belakang, serta harapan masa depan yang berbeda-beda. Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerja sama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi, atau sekolah. Tanpa kerja sama kehidupan akan punah. Perbedaan antar manusia yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan perdebatan dan kesalahpahaman antarsesamanya. Untuk menghindari hal tersebut maka diperlukan interaksi baik antar individu. Dalam interaksi tersebut harus ada saling tenggang rasa.
Dalam pembelajaran, interaksi tersebut dapat terjadi dan ditemukan dalam proses belajar mengajar khusunya di sekolah. Siswa sebagai pembelajar yang secara individualistik, bekerja sendiri-sendiri untuk mencapai tujuan pembelajaran yang tidak dipandang sebagai tidak ada hubungannya dengan siswa lain. Mereka disodori dengan tujuan individual dan usaha siswa dievaluasi berdasarkan kriteria yang ditentukan. Masing-masing siswa memiliki bahan pelajaran sendiri-sendiri dengan tingkat kecepatannya sendiri-sendiri, mengabaikan siswa lain di dalam kelas tersebut. Siswa diharapkan dan didorong untuk fokus hanya pada ketertarikan pribadi mereka sendiri, hanya menghargai usaha dan keberhasilan mereka sendiri, dan memandang kesuksesan atau kegagalan orang lain sebagai tidak ada urusan. Dalam situasi seperti ini, pencapaian tujuan belajar mereka tidak ada kaitannya dengan apa yang dilakukan oleh siswa yang lainnya. Sehingga perlu pendidik menggunakan sebuah pendekatan kooperatif dalam pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran kooperatif dapat digunakan dengan cukup meyakinkan pada setiap level kelas, dalam berbagai mata pelajaran, dan dengan berbagai macam tugas. (Johnson,et al, 2010: 28). Dalam sebuah pembelajaran ini akan tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru (multi way traffic communication)
Menurut Rusman (2009: 198), pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dala satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Dalam sistem belajar yang kooperatif, siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok belajar. Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka dapat melakukannya seorang diri. Sejalan dengan itu Slavin dalam Isjoni (2010: 15) mengungkapkan pembelajaran kooperatif adalah suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya empat sampai enam orang dengan struktur kelompok heterogen.
Pada hakikatnya pendekatan pemebalajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan sama tidak ada sesuatu yang aneh dalam pendekatan pemebalajaran kooperatif karena mereka beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran kooperatif dalam bentuk kelompok. Walupun dijelaskan Abdulhak melalui Rusman (2009: 199), “pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama di antara peserta belajar itu sendiri.” Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Tsailing Liang (2002: 6) mengungkapkan:
“Cooperative learning is defined as a system of concrete teaching and learning techniques, rather than an approach, in which students are active agents in the process of learning through small group structures so that students work together to maximize their own and each other’s learning. There are five characteristics that feature cooperative learning in this study: (1) positive interdependence, (2) face-to-face/ interaction, (3) individual accountability, (4) interpersonal and small group skills, and (5) group processing.
Johnson, et al (2010: 27-28) mengungkapkan keefektifan pembelajaran kooperatif telah ditegaskan baik oleh riset teoretis maupun demonstrasi, dan “profesional.” Literatur ilmiah terdiri dari studi-studi riset yang terkontrol dengan sangat teliti yang dilakukan untuk memvalidasi atau untuk menguji teori. Sebagian besar dari studi-studi lapangan semi-eksperimental atau korelasional yang mendemonstrasikan bahwa pembelajaran kooperatif memang bekerja dalam jangka waktu yang cukup lama. Studi-studi demonstrasi ini dikelompokkan ke dalam:
(1) evaluasi sumatif (rangkuman) yang menggambarkan bahwa pembelajaran kooperatif memang membuahkan hasil yang menguntungkan;
(2) evaluasi-evaluasi sumatif komparatif yang menggambarkan bahwwa prosedur pembelajaran kooperatif yang satu memberikan hasil yang lebih baik dari yang lainnya;
(3) evaluasi-evaluasi formatif yang bertujuan untuk mengembangkan implementasiii pembelajaran kooperatif yang sedang berlangsung; dan
(4) studi-studi survei tentang dampak pembelajaran kooperatif terhadap para pelajar. (Johnson dan Johnson, 1994)
Perlu ditekankan kepada siswa bahwa mereka belum boleh mengakhiri diskusinya sebelum mereka yakin bahwa seluruh anggota timnya menyelesaikan seluruh tugas. Siswa diminta menjelaskan jawabannya dengan lembar kerja siswa. Apabila seorang siswa memiliki pertanyaan, teman satu kelompok diminta untuk menjelaskan, sebelum menanyakannya pada guru. Pada saat siswa sedang bekerja dalam kelompok, guru berkeliling di antara anggota kelompok, memberikan pujian- pujian dan mengamati bagaimana kelompok bekerja. Menurut Thomson (via Masnur, 2007: 229) pembelajaran kooperatif dapat membuat siswa menverbalisasi gagasan- gagasan dan dapat mendorong munculnya refleksi yang mengarah pada konsep- konsep secara aktif.
Belajar kooperatif adalah kegiatan yang berlangsung di lingkungan belajar peserta didik dalam kelompok yang saling berbagi ide-ide dan bekerja secara kolaborasi untuk memecahkan masalah-masalah yang ada dalam tugas mereka. Sejalan dengan hal itu Tom V.Savage (via Rusman, 2009: 197) mengemukakan bahwa cooperative larning merupakan suatu pendekatan yang menekankan kerjasama dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok untuk saling berinteraksi. Dalam sistem belajara kooperatif siswa bekerja bersama anggota yang lainnya.
Sanjaya (2007: 240- 241) memberikan batasan lebih spesifik terhadap pembelajaran kooperatif. Menurut Sanjaya pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik berbeda.
Prospektif motivasional pada pembelajaran kooperatif terutama memfokuskan pada penghargaan atau struktur tujuan di mana para siswa bekerja sama. Deutts dalam bukunya Slavin (2008: 201) mengidentifikasikan dua struktur tujuan yaitu kooperatif, dimana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu memberi kontribusi pada pencapaian tujuan anggota yang lain; kompetitif, dimana usaha bersama tujuan dari tiap individu menghalangi pencapaian tujuan anggota lainnya. Yang termasuk di dalam struktur ini ada lima unsur pokok menurut Roger dan David Johnson melalui Anita (2008: 31) yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar aggota, dan evaluasi proses kelompok. Pada saatnya, kepada siswa diberikan evaluasi dengan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tes yang diberikan. Diusahakan agar siswa tidak bekerja sama pada saat mengikuti evaluasi, pada saat ini mereka harus menunjukkan apa yang mereka pelajari sebagai individu.
Pendekatan pembelajaran kooperatif memiliki kelebihan yang sangat besar untuk mengembangkan antara siswa dari latar belakang etnik yang berbeda dan antara siswa- siswa pendidikan khusus terbelakang secara akademik dengan teman sekelas mereka, ini jelas melengkapi alasan pentingnya untuk menggunakan pembelajaran kooperatif. Pendekatan pembelajaran kooperatif mengindikasikan bahwa penghargaan tim dan tanggung jawab individual sangat penting untuk meningkatkan prestasi kemampuan dasar (Slavin, 2008: 11). Tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada siswa untuk bekerja sama, mereka harus punya alasan mendukung pencapaian prestasi dengan serius.
Dalam pendekatan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran cooperative learning yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur cooperative learning dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif. Belajar kooperatif merupakan suatu metode yang mengelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil. Siswa bekerjasama dan saling membantu dalam meyelesaikan tugas. Tujuan pembelajaran kooperatif ini adalah untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Karena pada dasarnya manusia itu tidak merasa puas dengan satu pendapat. Maka untuk mencari jalan keluarnya dengan mengadakan diskusi untuk mendapatkan suatu kebenaran yang dirumuskan bersama. Sesuai dengan pendapat Johnson, et al (2010:28) bahawa kerjasama adalah upaya manusia yang secara simultan mempengaruhi berbagai macam keluaran instruksional. Keluaran ini dapat dibagi menjadi tiga kategori uytama (Johnson dan Johnson 1989a), yakni: usaha untuk mencapai, hubungan interpersonal positif, dan kesehatan psikologis (lihat gambar 1).
Ada banyak alasan mengapa pendekatan kooperatif tersebut mampu memasuki mainstream (kelaziman) praktek pendikan. Selain bukti-bukti tentang keberhasilan pendekatan ini, pada masa sekarang masyarakat pendidikan semakin menyadari pentingnya para siswa berlatih berpikir, memecahkan masalah, serta menggabungkan kemampuan dan keahlian. Walaupun memang pendekatan ini akan berjalan dengan baik di kelas dan kemampuannya merata, namun sebenarnya kelas dengan kemampuan siswa yang bervariasi lebih membutuhkan pendekatan ini. Karaena dengan mencampurkan para siswa dengan kemampuannya yang beragam tersebut, maka siswa yang kurang akan sangat terbantu dan termotivasi siswa yang lebih.
Demikian juga dengan siswa yang lebih akan semakin terarah pemahamannya. Perlunya pendekatan pembelajaran kooperatif didasarkan pada kenyataan-kenyataan sebagai berikut:
1. Siswa berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki latar belakang, pengalaman, gaya belajar (learning style), prestasi, dan keinginan/kehendak yang khas. Guru tidak boleh menganggap kelas sebagai kumpulan siswa yang seragam. Namun di lain pihak, guru juga tidak mungkin memperhatikan kekhasan siswa satu demi satu.
2. Belajar membutuhkan bermacam-macam konteks. Dengan bekerja bersama, tiap-tiap anggota kelompok memberi sumbangan sesuai dengan konteks yang dikenalnya masing-masing.
3. Belajar bukan hanya terjadi dalam diri seseorang secara individual tetapi lebih-lebih merupakan proses sosial antara individu dengan orang-orang lain.
4. Hubungan saling-bergantung secara sosial (social interdependence) di antara orang-orang yang berinteraksi mempengaruhi hasil interaksi di antara mereka.
Dari beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan pembelajaran kooperatif merupakan suatu cara pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik dengan kerja kelompok yang tersruktur dengan satu tujuan yang sama yakni mencapai ketuntasan dan keberhasilan bersama dalam belajar, yang selanjutnya yang dapat meningkatkan belajar siswa lebih baik dan meningkatkan sikap tolong-menolong dalam perilaku sosial.
a. Tujuan pendekatan Pembelajaran Kooperatif
Pendekatan pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga tujuan pembelajaran yang disarikan dalam Ibrahim, dkk (2000: 7‑8) sebagai berikut:
1) Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan sosial, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas‑tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep‑konsep yang sulit. Model struktur penghargaan kooperatif juga telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
2) Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latarbelakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.
3) Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial.
Pendapat setara menyebutkan bahwa pendekatan pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks, membantu mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial, dan hubungan antara manusia. Belajar secara kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif‑konstruktivis dan teori belajar sosial (Kardi dan Nur, 2000: 15).
Johnson dan Johnson (Trianto, 2010:57) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajara siswa untuk meningkatkan prestassi akademik dan pemahaman baik secra individu maupun secara kelompok.
Pendekatan pembelajaran kooperatif memiliki kelebihan yang sangat besar untuk mengembangkan antara siswa dari latar belakang etnik yang berbeda dan antara siswa-siswa pendidikan khusus terbelakang secara akademik dengan teman sekelas mereka, ini jelas melengkapi alasan pentingnya untuk menggunakan pendekatan kooperatif. Belajar kooperatif mengindikasikan bahwa penghargaan tim dan tanggung jawab individual sangat penting untuk meningkatkan prestasi kemampuan dasar (Slavin, 2008: 11). Tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada siswa untuk bekerja sama, mereka harus punya alasan mendukung pencapaian prestasi dengan serius.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan manfaat penerapan belajar dengan pendekatan pembelajaran kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual. Disamping itu, juga dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan pendekatan ini diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritass sosial yang kuat.
A. Karakteristik Pendekatan Pembelajaran kooperatif
Menurut Arends melalui Rusman (2009: 65-66), pembelajaran yang menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar
2. kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah,
3. Bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda,
4. Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Sedangkan Roger dan David Johnson (Anita, 2008:31) mengatakan bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal, ada lima unsur model pembelajaran gotong royong yang harus diterapkan.
1. Saling ketergantungan positif.
2. Tanggung jawab perseorangan.
3. Tatap muka.
4. Komunikasi.antaranggota
5. Evaluasi proes kelompok.
Roger dan Johnson (Agus, 2010:58) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, ada lima unsur dalam pendekatan pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan adalah:
1. Positive interdependence (saling ketergantungan positif).
2. Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan).
3. Face to Face interaction (interaksi promotif).
4. Interpersonal skill (komunikasi antar anggota).
5. Group processing (pemrosesan kelompok).
Senada dengan penjelasan tersebut Siahaan (2005) menutarakan unsur esensial yang ditekankan dalam pendekatan pembelajaran kooperatif, yaitu (a) saling ketergantungan yang positif; (b) interaksi berhasapan (face-to-face interactive); (c) tanggung jawab individu (individual accountability); (d) keterampilan sosial (social skill); (e) terjadi proses dalam kelompok (group processing).(Rusman, 2009: 199).
Sedangkan menurut Johnson & Johnson (1994) dan Sutton (1992) dalam Trianto (2009: 60-61), terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu:
1. Pertama, saling ketergantungan yang bersifat positif antar siswa. Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya meerupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil terhadap suksenya kelompok.
2. Kedua, interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antara siswa. Hal iini terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok mempengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi masalah ini siswa membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar-menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.
3. Ketiga, tanggungjawab individual. Tanggungjawab individual dalam belajar kelompok daspat berrupa tanggungjawab siswa dalam hal: (a) membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan (d) siswa tidak hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman jawab siswa dan teman sekelompoknya.
4. Keempat, keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain lain kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan keterampilan khusus.
5. Kelima, proses kelompok. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
Selain lima unsur penting di atas, Trianto (2009: 61) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran kooperatif ini mengandung prinsip-prinsip yang membedakan dengan pendekatan yang lainnya, adalah sebagi berikut.
1. Penghargaan kelompok, yang diberikan jika kelompok mencapai keriteria yang ditentukan.
2. Taggungjawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggungjawab ini terfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan yang lain.
3. Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah sama-sama tergantung untuk melakukan yang terbaik dan bahwa kontribusi semua anggota kelompok sangat berrnilai.
Sedangkan Rusman (2009: 58) menyebutkan terdapat berbedaan antara pendekatan pembelajaran kooperatif dengan pendekatan konvensional, seperti dalam tabel.1 berikut.
Tabel 1. Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatif dengan Kelompok Belajar Konvensional
| Kelompok Belajar kooperatif | Kelompok Belajar Konvensional |
| Adanya asaling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif | Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok |
| Adasnay akuntabilitas individual yang mengukuar penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memrlukan bantuan dan yang dapat memberikan bantuan. | Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas, sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok sedangkan anggota kelompok lain halnya “mendompleng’ keberhasilan’pemborong’. |
| Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, etnik, dans sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan | Kelompok belajar biasanya homogen |
| Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman mempimpin bagi para anggota kelompok. | Pimpinan kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pimpinannya dengan cara masing-masing. |
| Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong royong seperti kepemimpinan, kemmapuan berkomunikasi, memercayai orang lain, dan mengelola konflik secara langsung diajarkan. | Keterampilan sosial sering tidak secara langsung diajarkan |
| Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung guru terus melakukan pemantauan melalui observasi lain dan memerlukan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar-anggota kelompok. | Pemantauan melalui observasi dan intervensi sering tidak dilakukan oleh guru pada saat kelompok sedang berlangsung. |
| Guru memerhatikan secara proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar. | Guru sering tidak memerhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar. |
| Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai). | Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas. |
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan manfaat penerapan belajar dengan pendekatan pembelajaran kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual. Disamping itu, juga dapat mengembangkan solidaritas sosial, seprti gotong royong dan saling menghormati di kalangan siswa. Dengan pendekatan ini diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritass sosial yang kuat.
B. Langkah-langkah Pendekatan Pembelajaran kooperatif
Dalam pendekatan pembelajaran kooperatif atau cooperative leraning diajarkan keterampilan keterampilan khusus agar dapat bekerja sama di dalam kelompoknya, seperti: menjadi pendengar yang baik, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan.
Menurut Nur (2006: 12), pendekatan pembelajaran kooperatif menekankan kerja sama antaraa peserat didik dalam kelompok. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa peserta didik lebih mudah menemukan dan memahami suatu konsep jika mereka salingmendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Banyak anggota suatu kelompok dalam belajar kooperatif, biasanya terdiri dasri empat sampai enam orang, anggota kelompok yang terbentuk diusahakan heterogen berdasarkan perbedaan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan etnis.
Sejalan denagan uraian di atasa Ibrahim, M.,dkk (2000: 10) menyebutkan pendekatan pembelajaran kooperatif dilaksanakan mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan perlengkapan pembelajaran.
b. Menyampaikan informasi.
c. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d. Membantu siswa belajar dan bekerja dalam kelompok.
e. Evaluasi atau memberikan umpan balik.
f. Memberikan penghargaan.
Perlu ditekankan kepada siswa bahwa mereka belum boleh mengakhiri diskusinya sebelum mereka yakin bahwa seluruh anggota timnya menyelesaikan seluruh tugas. Siswa diminta menjelaskan jawabannya dengan lembar kerja siswa. Apabila seorang siswa memiliki pertanyaan, teman satu kelompok diminta untuk menjelaskan, sebelum menanyakannya pada guru. Pada saat siswa sedang bekerja dalam kelompok, guru berkeliling daiantara anggota kelompok, memberikan pujian-pujian dan mengamati bagaimana kelompok bekerja. Menurut Thomson (via Masnur, 2007: 229) pembelajaran kooperatif dapat membuat siswa menverbalisasi gagasan-gagasan dan dapat mendorong munculnya refleksi yang mengarah pada konsep-konsep secara aktif.
Sejalan dengan hal itu, Arend melalui Masnur (2007: 229) mengungkapkan terdapat enam fase atau langkah utama dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan motivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti siswa dengan penyajian informasi, sering dalam bentuk tes verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahap ini diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja sama menyelesaikan tugas mereka. Fase terakhir dari pembelajaran koopertatif, yaitu penyajian hasil akhir kerja kelompok, dan mengetes apa yang mereka pelajari, serta memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Keenam fase pembelajaran kooperatif tersebut dirangkum pada Tabel.2 berikut ini.
Tabel 2. Langkah-Langkah Pendekatan Pembelajaran Kooperatif
| FASE | KEGIATAN GURU |
| Fase 1: Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa | Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. |
| Fase 2: Menyajikan informasi | Guru menyampaikan informasi kepada siswa, baik dengan peragaan (demonstrasi) atau teks. |
| Fase 3: Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok- kelompok belajar | Guru menjelaskan siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan perubahan yang efisien. |
| Fase 4: Membantu kerja kelompok dalam belajar | Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mereka mengerjakan tugas. |
| Fase 5: Mengetes materi | Guru mengetes materi pelajaran atau kelompok menyajikan hasi-hasil pekerjaan mereka. |
| Fase 6: Memberikan penghargaan | Guru memberikan cara-cara untuk menghargai, baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. |
Dalam pendekatan pembelajaran kooperatif ini tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa juga harus mempelajari keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan membagi tugas anggota kelompok selama kegiatan.
Dari berbagai pendapat di atas dapat ditarik simpulan bahwa langkah-langkah pendekatan pembelajaran kooperatif adalah siswa dibagi dalam kelomok yang anggotanya empat sampai enam orang, mereka diminta menjelaskan jawabannya dengan lembar kerja siswa. Apabila seorang siswa memiliki pertanyaan, teman satu kelompok diminta untuk menjelaskan, sebelum menanyakannya pada guru. Pada saat siswa sedang bekerja dalam kelompok, guru berkeliling daiantara anggota kelompok, memberikan pujian-pujian dan mengamati bagaimana kelompok bekerja dan siswa bahwa mereka belum boleh mengakhiri diskusinya setelah seluruh anggota timnya menyelesaikan seluruh tugas.
D. Tipe Pembelajaran dalam Pendekatan Kooperatif.
Dalam pendekatan pembelajaran kooperatif ini, ada beberapa tipe yang dapat digunakan untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas pada semua jenjang penidikan, di antaranya sebagai berikut.
1. Tipe Student Team Achievment Division (STAD)
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.
Pendekatan pembelajaran koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Pada proses pembelajarannya, belajar meliputi 1)tahap penyajian materi, 2) tahap kegiatan kelompok, 3) tahap tes individual, 4) tahap penghitungan skor perkembangan individu, dan 5) tahap pemberian penghargaan kelompok (Slavin, 1995). Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal atau teks. http://aqilacourse.wordpress.com/2010/11/15/metode-pembelajaran-efektif-3/diakses 2 Mei 2011
2. Tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa katif dan saling membantu dalam menguasai teori pelajran untuk mencapi prestasi yang maksimal. Dalam pembelajran ini terdapat tahap-tahap dalam penyelenggaraannya.
Dalam pembelajaran kooperatif jenis jigsaw siswa belajar kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang. Heterogen dan bekerjasama saling ketergantung yang positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas ketuntasan bagian bahan pelajaran yang mesti dipelajari dan menyampaikan bahan tersebut kepada anggota kelompok asal.
Dalam jigsaw ini setiap anggota kelompok ditugaskan untuk mempelajari materi tertentu. Kemudian siswa-siswa atau perwakilan dan kelompoknya masing-masing bertemu dengan anggota-anggota dan kelompok lain yang mempelajari materi yang sama. Selanjutnya materi tersebut didiskusikan mempelajari serta mamahami setiap masalah yang dijumpai sehingga perwakilan tersebut dapat memahami dengan menguassai materi terssebut.
Tahap tahapa selanjutnya, setelah masing-masing perwakilan tersebut dapat menguasai materi yang ditugaskannya, kemudian masing-masing perwakilan tersebut kembali ke kelompok masing-masing atzu kelompok asalnya. Selanjutnya masing-masing anggopta tersebut saling menjelaskan pada teman satu kelompoknya sehingga teman satu kelompoknya dapat memahami yang ditugaskan guru.
Pada tahap ini akan banyak menememui permasalahan yang tahap kesukarannya bervariasi. Pengalaman seperti ini sangat penting terhadpa perkembangan mental anak. Pada tahap selanjuytnya siswa diberi te/kuis, hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah siswa sudah dapat memahami suatu materi.
3. Think Pair Share (Berpikir Berpasanagan Berempat)
Think Pair Share yang dikembangkan oleh Frank Lyman dan Think –Pair-Square) yang dikembangkan oleh Spencer kagan. Tipe pembelajaran ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulannya adalah optimalisasi partisipasi siswa, yaitu memberi kesempatan delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepad orang lain.
4. Team Accelerated Intuction (TAI), merupakan motode pembelajaran yang membentuk kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang cara berfikir yang berbeda untuk saling membantu terhadap siswa lain yang membutuhkan bantuan. Dalam model ini, diterapkan bimbingan antar teman yaitu siswa yang pandai bertanggung jawab terhadap siswa yang lemah. Disamping itu dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kelompok kecil. Siswa yang pandai dapat mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya, sedangkan siswa yang lemah dapat terbantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
5. Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan da reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelasPada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok. 2. Kelompok (team) Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game
6. Group Investasition (GI)
Tipe ini merupakan pembelajaran kooperatif yang kompleks karena memadukan antara prinsip belajar kooperatif dengan pembelajaran yang berbasis konstruksivisme dan prinsip-prinsip pembelajaran demokrasi. Dalam pembelajaran tipe ini, interaksi sosial menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan skema mentral yang baru. Dalam pembelajaran inilah kooperatif memainkan perranannya dalam memberi kebebasan kepada pembelajar produktif. Pola pengajaran ini akan menciptakan pembelajaran yang diinginkan, karena sebagai obyek pembelajara ikut terlihat dalam penentuan pembelajaran. Tahap-tahap dalam metode ini adalah siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang. Kelompok dapat dapat dibentuk berdasarkan perkawanan atau berdasarkan pada keterkaitan akan sebuah materi tanpa melanggar ciri-ciri pembelajaran kooperatif. Siswa memilih sub topik yang ingin mereka pelajari dan topik biasanya telah ditentukan guru.
pembelajaran geroup investigation bermula dari perpsektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey. Arends (1998) menyebutkan tipe pembelajaran group-investigation memiliki enam langkah pembelajaran (Slavin, 1995), yaitu: (1) grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan), (2) planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya), (3) investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi), (4) organizing (anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis), (5) presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan),(6) guru mengevaluas.